
Dharma Leksana, S.Th., M.Si.
Tagline: Sebuah pemandangan teologis, historis, dan digital yang jernih — bahasa roh dijelaskan dengan akal, hati, dan konteks zaman.
1. Pembukaan
Buku ini memasang ambisi yang penting: menjembatani pengalaman rohani yang seringkali misterius dengan disiplin akademik dan kepekaan pastoral. Dalam lanskap di mana bahasa roh mudah dipolitisasi, diparodikan, atau direduksi menjadi sensasi, karya Dharma Leksana tampil sebagai upaya penjernihan — empiris tanpa menjadi dingin, iman tanpa mengabaikan nalar.
2. Ringkasan Isi
Memahami Fenomena Bahasa Roh dari Pentakosta ke Era Digital mengurai fenomena glossolalia dan xenolalia dari akar Alkitabiah (Kisah Para Rasul, 1 Korintus, Roma), melacak jejak historisnya dalam gereja mula-mula hingga gelombang Pentakosta/karismatik, lalu mempertemukannya dengan kajian filsafat bahasa, linguistik, dan dinamika dunia digital. Buku ini terdiri dari 10 bab yang sistematis: pendahuluan, definisi dan terminologi, analisis linguistik, perdebatan teologis (cessationism vs continuationism), hermeneutika teks kunci, sejarah gereja, pertanyaan praktis, implikasi era digital, studi kasus kontemporer, hingga kesimpulan dan rekomendasi praksis.
3. Kekuatan Buku / Kontribusi Utama
- Multidisipliner tapi Terpadu: Penulis berhasil memadukan teologi biblis, sejarah gereja, filsafat bahasa, dan kajian media digital menjadi narasi yang koheren.
- Seimbang dan Bernuansa: Bukan buku “pro” atau “kontra” yang dogmatis; ia memberi ruang argumen cessationist dan continuationist, lalu menyodorkan kriteria pastoral untuk bersikap bijak.
- Kontekstual untuk Zaman Kini: Bab khusus soal era digital dan studi kasus kontemporer sangat relevan — membahas livestream glossolalia, etika membagikan video doa, dan dinamika penularan sosial dalam media.
- Praktis untuk Pemimpin Gereja: Menyajikan rekomendasi liturgis dan etika digital yang aplikatif bagi gereja yang ingin merawat karunia tanpa mengorbankan ketertiban dan kesaksian.
- Gaya Populer-Ilmiah: Bahasa yang komunikatif membuat topik berat ini bisa diakses pembaca awam tanpa kehilangan rujukan akademis.
4. Kelemahan (catatan kritis kecil)
- Kedalaman sumber non-Inggris: Di beberapa bagian, rujukan terlihat lebih condong pada literatur berbahasa Inggris dan sumber populer; penambahan studi regional (mis. bahasa lokal di Asia Tenggara) dapat memperkaya perspektif kontekstual.
- Data empiris primer terbatas: Buku ini kaya kajian pustaka; tetapi pembaca penelitian mungkin berharap adanya wawancara lapangan atau analisis data kuantitatif dari praktik livestream tertentu. (Catatan: ini peluang untuk edisi berikutnya.)
5. Kutipan Inti
- “Bahasa roh bukan sekadar fenomena aneh; ia adalah salah satu cara Roh Kudus membentuk doa, iman, dan misi—jika dipahami dan dipraktikkan dengan kasih dan ketertiban.”
- “Di era digital, rekaman tidak hanya merekam suara; ia merekam tata cara teologi yang akan diwariskan.”
6. Siapa Pembaca yang Cocok?
- Pemimpin gereja (pendeta, gembala, koordinator ibadah) yang membutuhkan pedoman praktis.
- Teolog, mahasiswa teologi, dan peneliti agama yang mencari sintesis biblis-historis-filosofis.
- Jemaat dan iman-awam yang penasaran dengan fenomena bahasa roh—ingin paham tanpa harus terjebak ekstrem.
- Praktisi media gerejawi yang mengelola livestream dan konten doa.
BACA BUKUNYA Klik disini : https://online.fliphtml5.com/syony/yoxg/
Unduh BUKU GRATIS disini :