
Karl Barth
📘 RESENSI BUKU
Penulis: Dharma Leksana, S.Th., M.Si.
Tebal: ±50 halaman
Tahun Terbit: 2025
🔍 “Kembali kepada Firman di Era Algoritma”
Di tengah arus deras teknologi digital yang terus membentuk ulang wajah dunia—termasuk ranah spiritualitas dan praktik keagamaan—buku ini hadir sebagai suara kenabian yang mengingatkan kita pada akar iman yang sejati: Firman Allah dalam Yesus Kristus. Menggali Ulang Pemikiran Karl Barth dan Teologi Digital Kontemporer bukanlah sekadar buku reflektif, melainkan juga manifesto teologis yang menyandingkan kedalaman pemikiran klasik dengan urgensi zaman digital.
🎯 Tujuan Penulisan: Menghidupkan Suara Barth di Dunia Digital
Tujuan utama buku ini, seperti dinyatakan oleh penulis dalam kata pengantar, adalah:
“Untuk membangun jembatan antara kedalaman teologi klasik Karl Barth dan urgensi refleksi teologi digital masa kini.”
Buku ini tidak menawarkan jawaban instan, melainkan mendorong pembaca untuk kembali merenung secara mendalam:
- Siapa Allah?
- Bagaimana kita mengenal-Nya?
- Apa arti menjadi Gereja dalam dunia yang didominasi algoritma?
Dengan metode reflektif dan dialektis khas Barth, penulis mengajak pembaca menolak “jalan pintas teologis” dan kembali pada Kristosentrisme radikal yang menjadi landasan iman Kristen sejati.
📖 Isi dan Sorotan Utama
Buku ini disusun dalam 8 bab, dengan penekanan utama pada:
1. Firman Allah vs. Informasi Digital
Barth mengajarkan bahwa Firman Allah adalah peristiwa, bukan sekadar teks. Di era kebisingan digital, buku ini menantang pembaca:
“Apakah kita masih mencari perjumpaan dengan Firman, atau sekadar mengonsumsi konten rohani?”
2. Kristosentrisme sebagai Kompas Teologi Digital
Kristus bukan hanya pusat iman, tetapi juga ukuran teologis segala bentuk pelayanan digital. Penulis menegaskan:
“Kristosentrisme menjadi filter yang menilai setiap bentuk digitalisasi agama.”
3. Gereja sebagai Komunitas Saksi di Era Disembodiment
Virtualisasi gereja menimbulkan pertanyaan serius tentang inkarnasi. Penulis mengingatkan,
“Iman Kristen adalah iman yang terinkarnasi, bukan spiritualitas yang melayang tanpa tubuh.”
4. Kritik Barth terhadap Teologi Natural Baru
Optimisme teknologi seringkali berubah menjadi “agama baru.” Barth dengan tegas menolak upaya mengenal Allah melalui akal atau teknologi:
“Teknologi adalah alat, bukan pewahyuan.”

📌 Keunggulan dan Kontribusi
- Originalitas: Menghubungkan Karl Barth dengan isu-isu kontemporer seperti AI, algoritma, disembodiment, dan gereja daring.
- Kritis dan Profetik: Menyuarakan kritik terhadap idolatry digital, selebritas rohani, dan penggantian Firman dengan konten viral.
- Teologis Mendalam namun Populer: Meskipun padat konsep, buku ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mahasiswa, pelayan gereja, maupun awam digital.
✍️ Kutipan Menarik untuk Promosi
“Barth mendorong gereja untuk tidak menjadi penumpang teknologi, tetapi menjadi saksi kebenaran di dalamnya.”
“Kristus bukan sekadar ‘konten viral’. Ia adalah Firman yang menantang, bukan menyenangkan algoritma.”
“Gereja digital harus berinkarnasi, bukan terjebak dalam spiritualitas yang disembodied.”
🎯 Siapa yang Perlu Membaca Buku Ini?
- Teolog dan mahasiswa teologi
- Pelayan gereja dan penginjil digital
- Pemerhati transformasi digital dan spiritualitas
- Siapa pun yang ingin meneguhkan imannya di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi
📚 Penutup
Buku ini adalah panggilan untuk berteologi dengan kesadaran zaman, tanpa melepaskan fondasi yang tak tergoyahkan. Ia menghidupkan kembali suara Karl Barth—tegas, tajam, dan profetik—untuk membimbing gereja hari ini agar tidak terombang-ambing dalam lautan data dan algoritma. Ini bukan buku biasa. Ini adalah peta navigasi iman di tengah badai digital.
BACA Buku klik disini : https://online.fliphtml5.com/syony/zlmd/
Unduh Buku klik disini :