
Buku Jejak Langkah Misiologi Gereja Perdana dan Relevansinya di Era Digital - Dharma Leksana, S.Th., M.Si.
Penulis:
Dharma Leksana, S.Th., M.Si.
Resensi Buku:
Menyusuri Akar Misi Gereja untuk Zaman yang Terhubung
Di tengah gemuruh zaman digital yang sarat konektivitas, kebingungan informasi, dan disrupsi spiritual, buku ini hadir sebagai jembatan penting antara sejarah gereja perdana dan tantangan misiologi kontemporer. Dharma Leksana, teolog dan pemikir lintas disiplin, mengajak pembaca untuk menelusuri kembali akar spiritualitas dan semangat misi gereja mula-mula, lalu mengaitkannya secara kritis dan kreatif dengan dunia maya masa kini.
Isi dan Struktur Buku
Buku ini terbagi menjadi tujuh bab tematik yang terstruktur rapi, dimulai dari konteks kelahiran gereja perdana di tengah krisis dan harapan (Bab 1), hingga menggagas misi gereja abad ke-21 yang berakar pada integritas, inklusivitas, dan inovasi (Bab 7). Dalam setiap bab, pembaca diajak berdialog dengan teks Kitab Suci, sejarah gereja, filsafat digital, dan refleksi teologis yang mendalam.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada penggunaan buku klasik karya Lawrence E. Toombs, The Threshold of Christianity, sebagai kerangka reflektif. Toombs membedah transformasi mendasar dari Yudaisme ke Kekristenan, dari segi pemahaman akan Allah, Hukum, Mesias, keselamatan, dan perjanjian. Pemikiran ini dijadikan fondasi dalam menyusun ulang relevansi misi di zaman algoritma dan media sosial.
Poin-Poin Kuat Buku
1. Historisitas yang Hidup
Penulis tidak hanya menguraikan sejarah gereja perdana sebagai narasi masa lampau, tetapi membangkitkan kembali konteks politis, sosial, dan religius yang membentuk semangat mereka. Kekristenan awal bukanlah agama nyaman, tetapi gerakan revolusioner yang membawa kabar baik dalam tekanan kekaisaran Romawi dan ketegangan teologis dengan Yudaisme.
2. Refleksi Teologis yang Dalam
Setiap bab mengandung refleksi teologis yang tajam dan kontemporer. Misalnya, bagaimana Kerajaan Allah dalam pemahaman gereja perdana masih menjadi panggilan utama dalam menjangkau dunia digital. Injil tetaplah kabar baik yang transformatif—yang tak pernah kehilangan daya ubah walau medianya berubah.
3. Misiologi Digital yang Progresif
Bab-bab pertengahan dan akhir secara khusus merancang kerangka misiologi digital yang bukan sekadar adaptif, tetapi tetap kritis. Gereja masa kini, menurut Leksana, tidak cukup sekadar hadir di media sosial, tetapi harus merebut narasi, menjadikan ruang digital sebagai tempat pemberitaan Injil, dan menghadirkan komunitas virtual yang otentik. Di sinilah letak kecemerlangan buku ini—membumikan misi lama dalam dunia yang baru.
4. Etika dan Algoritma
Penulis menyoroti tantangan besar di dunia digital: disinformasi, ujaran kebencian, filter bubble, hingga eksploitasi data. Bagaimana Injil bisa hadir sebagai suara profetik dan penyembuh di tengah algoritma yang mendorong polarisasi? Buku ini menjawabnya dengan gagasan “misiologis-etis”, yaitu menginjili tanpa manipulasi, mencintai tanpa segmentasi.
Kutipan Kunci:
“Spirit pemberitaan yang berpusat pada Kristus dan karya penyelamatan-Nya harus tetap menjadi DNA misiologi digital.”
— Bab 5, hlm. 98
Kekayaan Akademik dan Spiritual
Selain menyajikan kerangka sejarah dan analisis, buku ini juga dilengkapi dengan glosarium, daftar pustaka ilmiah, dan profil penulis yang menguatkan kredibilitas akademik. Referensi yang digunakan mencakup teolog-teolog misi terkemuka seperti Bosch, Wright, Escobar, hingga pakar teknologi digital seperti Sherry Turkle dan Schuurman.
Namun, buku ini bukan sekadar bacaan ilmiah; ia juga merupakan meditasi spiritual yang menyentuh, mengajak pembaca untuk merenung: apakah gereja masa kini masih memiliki keberanian dan kreativitas seperti gereja perdana?
Untuk Siapa Buku Ini?
Buku ini sangat relevan untuk:
- Pelayan gereja dan tim misi yang ingin memahami ulang arah pelayanannya.
- Akademisi dan mahasiswa teologi yang mendalami sejarah gereja dan misiologi.
- Praktisi digital Kristen yang ingin menerapkan nilai-nilai Injil dalam dunia maya.
- Siapa pun yang rindu melihat gereja tetap relevan, hidup, dan menyala di abad ke-21.
Kesimpulan:
Jejak Langkah Misiologi Gereja Perdana dan Relevansinya di Era Digital adalah buku yang lahir dari kontemplasi dan riset mendalam, tetapi tetap komunikatif dan bernas. Ia menjadi pengingat bahwa misi gereja bukan sekadar aktivitas religius, melainkan gerakan hidup yang terus beradaptasi tanpa kehilangan jiwa.
Dharma Leksana berhasil merangkum roh pemberitaan gereja awal dan menyalakan semangat itu kembali di tengah dunia yang terpecah dan terhubung secara digital. Sebuah kontribusi yang penting bagi teologi kontekstual Indonesia hari ini.
Rating: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)
Buku penting, reflektif, dan sangat relevan untuk zaman ini.
BACA BUKU Klik disini : https://online.fliphtml5.com/syony/mjax/
Unduh Buku silakan disini :